http://mridha.blogspot.com/2005_07_02_mridha_archive.html
Benar dan salah dalam dunia eksakta (empirical) lebih mudah ditentukan dibanding di dunia sosial, di mana moral standard yang dipakai oleh banyak orang berbeda2. Benar dan salah suatu statement dalam dunia eksakta ditentukan berdasarkan factuality dari statement tsb berdasarkan observasi dan logical reasoning yang dimiliki manusia. Kalau ada yang bilang bumi ini ceper seperti koin, tentu dianggap salah karena secara factual tidak demikian. Tapi kalau ada yang bilang sah2 saja berzina kalau suka sama suka, argument apa yang bisa digunakan untuk membuktikan salah atau tidaknya?
Saya kutip kata2 Mas Ridha
ReplyDelete"acceptable dalam pandangan Tuhan pencipta manusia itu sendiri? Semua usaha mencari standard moral dengan akal akan kembali lagi ke square one. Terombang-ambing di tengah2 samudra berbagai macam pemikiran ini, tidak sedikit manusia menjadi bingung dan tidak tahu kemana lagi akan melangkah pasti dalam hidup ini. Sudah seharusnya agama dilirik dan dipelajari kembali."
Ini yang kadang menarik, karena masih banyak (some not all of them) orang2 yang berpikiran, masa sich Tuhan sekejam itu?
Tidak tahu tuhan siapa yang dimaksud disini?? Tuhan sebagai Allah SWT atau Tuhan Ciptaan manusia itu sendiri seperti yang mas Ridha bilang.
Dengan berpikiran seperti ini "masa sich Tuhan sekejam itu?" kemudian mem-bolehkan tindakan2 yang jelas2 melanggar norma2 agama, sebab menurutnya tindakan2nya itu tidak melanggar norma2 agama yang digariskan-nya sendiri.
Atau bahkan pasrah dan tetap melakukan hal itu, karena berprinsip, kalau bertanya, berarti tidak ikhlas dengan apa yang digariskan Tuhan. Dan lupa bahwa yang kehidupan yang menurutnya sudah digariskan oleh Tuhan itu adalah kehidupan yang digariskan sendiri, tetapi memakai tameng, "sudah digariskan tuhan".
Kemudian mengelak untuk bertanya apakah sudah benar garis hidupnya itu. Dan tetap menikmatinya.
Duch maaf mas Ridha, jadi numpang mengeluarkan uneg2.
Ikut komentar ya Pak Ridha,
ReplyDeleteKebenaran dalam sains (baik sains alam atau sosial) tidak sama dengan kebenaran dalam agama dan moral. Kebenaran dalam sains tidak pernah absolut: ketika satu teori sains dinyatakan benar maka ribuan saintis lain berusaha membuktikan teori tsb salah dan begitu seterusnya. Teori sains yg baik adalah teori yang bisa salah. Jika sebuah teori sains tidak mungkin salah maka secara saintifik itu bukan hal yang menarik karena kita tidak bisa melakukan kontribusi apapun lagi.
Dalam sains alam spt fisika pun benar dan salah tidak selalu mudah ditentukan. Misal teori atom Rutherford pernah dianggap paling benar lalu ternyata salah dan digantikan teori atom Bohr.
Demikian juga dalam sains sosial. Moral adalah acuan bagaimana dunia seharusnya (yg benar), sedangkan sains sosial adalah usaha manusia utk mengetahui realitas sosial. Sains sosial tidak mampu memberitahu bagaimana atau apa tindakan benar yang dilakukan manusia.
Dalam konteks moral kita bisa definisikan dengan tepat posisi benar dan salah. Tetapi dalam sains sosial tidak ada benar atau salah dalam arti seutuhnya. Paling banter benar atau salah menurut standar saintifik (metodologi yg salah, atau tidak konsisten secara logika).
Moral dan sains sosial adalah berbeda tapi saling berhubungan dan saling membutuhkan satu sama lain. Menurut saya penting untuk tidak menilai moral dengan sains dan sebaliknya tidak membuat legitimasi sains dengan moral. Apa yang benar secara saintifik belum tentu benar secara moral, tapi ia harus tetap dianggap hasil saintifik yang valid jika memang telah melalui proses penilaian saintifik.
Terima kasih mas Robi atas komentarnya...
ReplyDeleteSaya setuju bahwa masalah moral (ukuran suatu standard morality) tidak bisa dijelaskan dengan sains karena sudah masuk ke dalam dunia filsafat (di mana observasi tidak bisa digunakan seperti halnya di dunia sains).
Bagaimana pun cara manusia menjustify suatu perbuatan, penilaian "benar" atau "salah" tergantung kepada orang yang menilai perbuatan tsb, atau pihak yang dianggap memiliki authority. Bisa jadi manusia itu sendiri, his family, society, government, atau Tuhan yang dia taati. Bagi yang telah mengikrarkan diri sebagai Muslim, the highest authority yang diakui tentunya Allah SWT, Tuhan yang menciptakan mereka, yang paham akan baik buruknya suatu perbuatan terhadap ciptaan-Nya...
Wallahu'alam.
Nggak apa2 mbak... kan lebih baik dikeluarkan biar bisa dibahas barengan.. :-)
ReplyDeleteMemang salah satu penyebab lahirnya pemikiran atheisme dalam benak seseorang adalah ketidakmampuan memahami problematika hidup, terutama seperti yang mbak Pungki tulis, yakni yang biasa dikenal sebagai "problem of evil". Menurut mereka, kalau Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Penyayang itu ada, tentu Dia tidak akan membiarkan dan sanggup menghapus keburukan dan kejahatan di muka bumi. Tetapi kenyataannya keburukan dan kejahatan tetap merajalela. Lalu mereka simpulkan berarti Tuhan tidak ada. Apalagi kalau kejahatan atau keburukan ini terjadi menimpa mereka atau kerabat dekat mereka, mereka akan mudah menerima paham atheisme ini, atau mereka akan membenci Tuhan dan mendeclarekan permusuhan dengan-Nya (karena mereka merasa Tuhan tidak peduli dengan apa yang terjadi dengan mereka).
Sebenarnya, masalah ini sudah lama dibahas dalam diskusi2 filsafat sejak zaman dahulu kala. Agak panjang kalau dibahas di sini, tetapi insya Allah saya akan coba masukkan dalam posting2 mendatang...
Rob, bukannya yg lebih tepat, teori sains yang baik itu "falsifiable" (Popper's falsification principle), bisa DIBUKTIKAN atau DITUNJUKKAN salah, bukan hanya bisa salah karena semua teori yang diajukan diharapkan teori yang benar.
ReplyDelete