http://mridha.blogspot.com/2005_07_01_mridha_archive.html
Dalam era globalisasi modern seperti zaman sekarang ini banyak anak2 muda yang kritis terhadap agama mereka sendiri. Mereka tidak segan2 mempertanyakan keimanan dan aturan2 dalam agama. Kalau kurikulum pendidikan agama yang mereka dapati di sekolah tidak mampu mengaddress masalah ini, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi...
Inilah pemikiran yang selama ini ingin saya keluarkan dan paparkan.. Sangat-sangat bermanfaat mas ! kalau boleh saya minta izin untuk meng-copy lalu mau saya sebar thru e-mail kepada teman2 sesama muslim, dan tentu dengan source nya. Mudah-mudahan mereka bisa berpikir lebih mendalam tentang Islam, agama yang telah mereka anut sejak lahir itu.
ReplyDeletequote dari blognya Mas Ridha :
ReplyDelete"Mungkin dengan mengetahui kerangka dasar dalam berpikir dan berargumentasi macam ini, metode dalam memahami permasalahan dan perbedaan pandangan dalam agama dapat dimengerti, sehingga diskusi2 maupun debat2 dalam memahami agama dapat berjalan dengan baik, dengan menganalisa argument masing2 pihak yang berbeda, tanpa menyerang pribadi, sehingga pertikaian dan perpecahan yang tidak diinginkan bersama bisa dihindari."
*********************
Comments :
Mas Ridha, kayaknya koq untuk bisa berpikir kritis mengenai agama kita perlu lebih memahami dulu prinsip-prinsipi keTAUHIDan. Tanpa itu kita mungkin bisa terjebak dalam liberalisme pemikiran, seperti orang Nasrani mengkritisi Bibelnya sendiri. Dengan Tauhid, pemikiran akan lebih terarah tetapi bukan berarti indoktrinasi lho. Soalnya begitu orang berdebat dengan prinsip yang ada di kepala masing-masing, tidak ada tolok ukur yang paling benar. Semua berpendapat bahwa pendapatnya sendirilah yang paling benar. Kalau sudah begitu harus ada kebenaran yang hakiki/absolut.
Sebenarnya "bolong"nya pendidikan agama Islam di Indonesia karena kurang diberikannya pemahaman mengenai Tauhid itu, sehingga kita sering terjebak pada sekulerisme. Misalnya diskusi soal iptek (contoh: Teori Evolusi Darwin) tidak dikorelasikan dengan bagaimana dan untuk apa penciptaan alam semesta dan manusia oleh Allah SWT.
Just a thought from what we have observed recently, even in the non muslim countries......
May Allah reward you for your effort... Saya memang ingin menyebarkan informasi ini kepada generasi2 muda Islam dengan harapan mudah2an mereka bisa mengerti dan siap untuk meresponse dengan baik dan benar argument2 yang banyak ditemui dalam pergolakan pemikiran akhir2 ini (ghazwul fikr) baik dari kalangan internal (paham liberal, berbagai sekte dalam Islam, dll) dan kalangan external (misionaris, orientalis, Islamophobic, dll)... amin.
ReplyDeleteTerima kasih mbak Vita atas feedbacknya. Benar, tauhid (aqidah), atau dasar2 prinsip keyakinan/keimanan, diperlukan untuk memahami dan mengamalkan ajaran2 Islam. Untuk memahami aqidah atau prinsip2 keimanan ini, cara2 berpikir yang benar perlu dipahami sehingga prinsip2 yang diyakini bisa terbentuk di atas pondasi yang solid dan tidak mudah rubuh ditiup angin topan berbagai pemikiran atau rapuh termakan situasi/kondisi yang beragam pula.
ReplyDeleteAl Qur'an banyak menjelaskan bahwa agama Islam ini berdiri di atas hujjah yang nyata, malah dalam 12:108 digunakan kata "bashiran" (clear evidence as seeing with our eyes). Di dalam banyak ayat banyak kita jumpai pula pertanyaan2 retorik "bagaimana cara kamu berpikir", "bagaimana cara kamu memutuskan", dst. Contoh lainnya, untuk mengcounter tuduhan bahwa Al Qur'an adalah hasil karya manusia, Allah men-challenge orang2 yang meragukannya untuk menemukan kontradiksi di dalamnya (4:82). Tentunya kita di-trigger untuk berpikir, mengapa Allah sampai mengajukan challenge seperti itu, atau apa pentingnya argument kontradiksi untuk membuktikan suatu case, dst...
Saya lihat para da'i harus siap menghadapi pertanyaan2 yang mungkin sebelumnya tidak pernah keluar atau tidak berani ditanyakan oleh generasi2 zaman mereka. Mungkin dulu kita kalau bertanya mengenai banyak hal akan dicap kafir oleh ustadz kita, tapi di zaman sekarang, sudah banyak anak2 yang sejak kecil (terutama yang dibesarkan di negara2 barat) sudah kritis dan tidak mau menerima begitu saja doktrin tanpa penjelasan yang masuk akal mereka. Contohnya anak2 saya yang 7 dan 5 tahun ketika dibacakan kisah2 para Nabi bertanya, "Can we become a Prophet?" atau "Can Allah talk to us?". Saya sempat bingung bagaimana cara menjawabnya yang bisa diterima anak2 seumur mereka. Saya pikir, ini baru anak2, bagaimana nanti kalau sudah teenagers? :-)
Saya menulis ide tentang kerangka berpikir ini dengan maksud mungkin ada baiknya kalau orang2 Islam (terutama para generasi muda) mengetahui cara2/metode beargumentasi yang baik sehingga dapat bermanfaat ketika menganalisa dua pandangan yang berbeda atau meresponse tuduhan2 orang terhadap agamanya. Kerangka berpikir ini sebenarnya sering dibahas dalam kitab2 ushul fiqh di mana metode2nya dijelaskan dan dijabarkan sehingga dimengerti mereka yang membacanya, seperti dalam al-Umm nya Imam Syafi'i. Kebiasan berpikir seperti ini dipegang terus oleh para ulama dan ahli fiqh sejak dahulu, tapi sayangnya saya amati cara berpikir seperti ini kini sering hilang dalam argument2 orang2 Islam ketika meresponse pendapat yang berbeda, contohnya ketika meresponse ide2 atau pemikiran liberal, yang lebih terasa nada emosionalnya daripada bobot argumentnya.
Tentunya perlu dijelaskan bahwa metode berpikir ini dipakai sejauh adanya data/informasi di mana akal kita bisa memprosesnya. Bila tidak ada data/informasi lebih lanjut, para ulama selalu bersikap humble dan berkata "wallahu'alam". Ini yang membedakannya dengan cara berpikir yang dipakai kaum mu'tazillah yang selalu memaksakan akal untuk memikirkan atau menjelaskan hal2 yang diluar jangkauannya. Insya Allah hal ini akan saya tuangkan dalam posting opini saya yang lainnya...
Mudah2an diskusi ini ada manfaatnya... Amin.
Benar sekali, saya sendiri belum menemukan jawaban mengenai ini. Padahal sudah ditanyain sama suami berkali2. Ada yang bisa kasih jawaban???
ReplyDeleteBenar mas Ridha.
ReplyDeleteMengenai kerepotan mas Ridha dengan pertanyaan2 nanda2nya. Dialami juga oleh saya dan suami.
Seperti waktu kapan lalu, Mas Imam bertanya, mengenai kalau apakah Allah ada apa tidak?, dan siapa yang membuat bintang2 itu, ini butuh tenaga yang besar. Harus ada sesesuatu yang memegangi untuk menjadikan bintang itu.
Jadi pikiran2 anak2 kita dijaman sekarang ini dan di dunia yang teknologi sudah canggih, tidak bisa hanya di cekoki, "There is Allah, Allah is the only one, He is the magnicifient, etc..etc" untuk membuat diri mereka memahami keberadaan Allah SWT.
Sementara dalam diri mereka ada pertanyaan yang sudah Mas Ridha kemukan di blognya mas seperti ini, "Why do you believe in God that cannot be seen?", atau mungkin anak2 kita pasti bertanya "How do you know that there is a God, while I can't see him".
Nach kalau sudah begini?!?! apa yang kita lakukan untuk bisa mengajarkan anak2 kita tentang ketauhid-an Allah SWT???
Kadang saya sampai jungkir balik, mencari2 bahan2 di buku, Tetapi indeed masih memerlukan sekali jawaban itu, karena pertanyaan itu masih tetap ada sampai kapanpun.
Mas Ridha, sepertinya koq pendapat saya dan Mas Ridha saling berkebalikan antara “cara memahami tauhid/aqidah lebih dahulu” dan “cara berpikir yang benar lebih dahulu”. Yang saya pahami, untuk bisa berpikir dengan benar, perlu pemahaman aqidah yang benar terlebih dahulu. Apa yang saya tangkap dari Mas Ridha, untuk memahami aqidah perlu cara berpikir yang benar terlebih dahulu. It seems like the problem of a chicken and an egg, which one does firstly appear?
ReplyDeleteIni cerita pengalaman ya… Dulu saya berpikir, Al Qur`an itu seakan kumpulan dogma. Nah sebelum membaca dan memahami Al Qur`an kita belajar ilmu pengetahuan dulu, supaya tidak take it for granted. Tetapi sekarang pikiran saya berubah setelah secara rutin membaca dan memahami tafsir Al Qur`an. Ternyata sumber dari segala sumber informasi Tauhid/Aqidah ada pada Al Qur`an termasuk juga bagaimana cara memahaminya dengan benar. Pada mulanya saya membaca Al Qur`an kurang begitu memahami artinya ayat per ayat, kemudian setelah saya perbaiki tajwidnya dan rutin membaca, lama kelamaan serasa “tune in” dengan apa yang dikehendaki Allah terhadap kita yaitu agar kita menjadi hambaNya. Inilah yang saya maksud dengan prinsip tauhid itu. Begitu ada diskusi mengenai aqidah (misalnya apakah amal seseorang tidak peduli dia Islam atau yang lain akan diterima Allah SWT), pengetahuan mengenai tauhid tadi terasa sangat bermanfaat untuk lebih memberi keyakinan pada diri saya. Dan sekaligus bisa menjawab pertanyaan kritis seperti itu.
Nah itu Mas, seseorang bisa diberi jabatan Nabi atau orang biasa itu hanya kuasa dari Allah. Sama halnya dengan pertanyaan : What are really we? What did we come from? What will we go further after dying? So that what are really our duties in this world? How should we answer these questions properly?
ReplyDeleteDulu saya pernah cerita sama anak-anak. Jadi ada seorang raja yang mau memberi hadiah dan hukuman kepada rakyatnya secara tepat. Caranya rakyatnya digilir masuk ke dalam sebuah rumah yang besar (ibaratnya seperti hanggar pesawat) dan disuruh tinggal di situ selama yang dikehendaki raja. Rakyat boleh melakukan apa saja di dalam rumah itu, silakan mau berbuat baik atau berbuat buruk, silakan mau mementingkan diri sendiri atau menolong orang lain. Yang berbuat baik akan diberi hadiah dan yang berbuat buruk akan dihukum. Tetapi hukuman yang paling keras yang tidak bisa ditawar-tawar adalah kalau seseorang membenci dan menyerupakan raja dengan yang lain. Semua perbuatan itu dimonitor dan dicatat oleh para prajurit. Para prajurit itu memonitor isi rumah itu dari segala sudut tanpa ada yang terlewat. Pada saat tertentu sesuai pilihan raja seorang rakyat akan dipanggil keluar rumah dan dimasukkan ke ruang sidang pengadilan. Dari situ akan diputuskan apakah dia masuk penjara selama-lamanya atau bisa menempati salah satu ruangan di istana di sebelah raja.
Cerita itu saya maksudkan untuk memberi ilustrasi pada anak bagaimana dan apa maksud Allah menciptakan manusia. Raja itu juga salah satu manusia yang nantinya akan mendapat reward dan punishment dari Allah yang menciptakannya.
Ada kesalahpahaman di antara kita mengenai beda pendapat antar ulama. Perbedaan pendapat mereka umumnya masalah fiqih (tata hukum dalam Islam). Contohnya posisi tangan yang bersedekap waktu sholat, apakah di atas pusar ataukah agak ke atas di atas dada. Kadang yang seperti itu berbeda dalam cara menafsirkan hadits tetapi sebenarnya maknanya bisa sama, dalam hal itu sama-sama merupakan hal-hal yang disunnahkan dalam sholat. Tetapi tidak ada ulama yang berbeda pendapat dalam masalah aqidah (tauhid). Jadi mereka akan sepakat bahwa, misalnya, Islam itu adalah satu-satunya agama yang diridhoi oleh Allah.
ReplyDeleteYa memang betul Mas Ridha, saya sendiri juga jika ada yang tidak saya ketahui maka tidak akan saya katakan. Kalau ditanyakan suatu masalah, memang kita diwajibkan untuk sadar bahwa Allah itu yang Maha Mengetahui. Kita bisa berpikir atau mendapat pencerahan itu semata-mata karena diberi karunia hidayah dan ilmu pengetahuan oleh Allah. Apa yang kita ketahuipun tidak akan sesempurna pengetahun-Nya. Jadi pada point ini makin yakinlah saya bahwa kita harus mendahulukan untuk memahami tauhid sebelum bisa berdiskusi hal-hal yang kritis.
ReplyDeleteSis Pungki,
ReplyDeleteRasanya semua pertanyaan dan sekaligus jawabannya sudah ada di dalam Al Qur`an dan Hadits. Tinggal bagaimana kita mengemasnya untuk bisa diceritakan dalam bahasa anak tanpa terjebak pada liberalisme pemikiran. Mungkin anak perlu diajak untuk berpikir logis, misalnya kalau kita membuat barang maka barang itu akan lebih kecil atau lebih lemah daripada kita. Kalau barang itu kuat, tentu yang membuat jauh lebih kuat lagi. Nah bagaimana dengan bumi misalnya. Tentu yang membuat lebih besar dari bumi. Begitu juga alam raya ini, jagad raya ini. Bisa gak kita bayangkan yang menciptakannya. Tetapi itu pasti ada yang menciptakan, karena kalau tidak pasti sudah saling bertabrakan antara planet satu dengan yang lain tanpa kendali.
Dulu saya juga bingung seperti itu waktu dikasih pelajaran biologi di sekolah mengenai teori Darwin. Kalau Darwin benar, tentulah sangat bertolak belakang dengan bagaimana Allah sampai menyuruh para malaikat menyembah manusia pertama ciptaanNya yaitu Nabi Adam dan dialah sebenarnya nenek moyang kita. Keruntuhan Teori Darwin ini secara lengkap bisa dibaca di www.harunyahya.com. Jadi memang memahami ilmu pengetahuan itu tidak bisa dilepaskan atau harus seiring dengan memahami Al Qur`an dan Hadits dengan benar. Syaratnya ada 5, yaitu : 1. Shohihul Akidah (memiliki akidah yang benar), 2. Salamatul Qolb (bersih hati dari segala penyakit), 3. Faham bahasa Arab, 4. Faham tafsir bil Matsur, 5. Komitmen yang kuat dengan ajaran Islam.
ReplyDeleteSebenarnya menurut saya sih sama aja, mbak. :-) Dalam proses memahami tauhid/aqidah, tentunya terjadi proses berpikir pula di sini.
ReplyDeleteMisalnya, untuk menjawab pertanyaan2 berikut: Mengapa kita percaya adanya Tuhan? Mengapa kita percaya Dia hanya satu saja (mengapa tidak banyak seperti konsep dewa2)? Mengapa kita percaya adanya wahyu dan Nabi2 utusan Tuhan? Mengapa kita percaya Al Qur'an itu wahyu dari Tuhan? dst. Dalam menjawab pertanyaan2 aqidah ini, kerangka berpikir yang benar (consistency, comprehensiveness, in-context, etc) perlu dipahami untuk menghindari kesalahan (fallacy) dalam proses pencarian jawabannya.
Kerangka berpikir ini bukan hanya digunakan untuk memperkuat aqidah, tetapi juga ketika membahas masalah2 umum lainnya, seperti masalah2 fiqh, tafsir, sosial, dlsb.
Sebenarnya bukan hanya dalam dunia fiqh saja sih mbak, kalau kita lihat dalam masalah2 aqidah pun (misalnya dalam menafsirkan ayat2 yang berhubungan dengan sifat2 Allah atau dalam menafsirkan hadits2 yang berhubungan dengan hal2 ghaib seperti masalah jin, malaikat, tanya jawab di kubur, isra' mi'raj, surga, neraka, etc). bisa kita jumpai pula adanya perbedaan pendapat di antara ulama di dalamnya. Dalam diskusi perbedaan pendapat antara mereka ini, kita bisa lihat pula bahwa meskipun mereka sama2 menggunakan ayat2 Qur'an dan hadits2 Nabi, mereka tetap memakai kerangka berpikir yang diakui bersama2 (consistency in argument, etc). Tetapi yang jelas, mereka tidak berbeda pendapat mengenai kebenaran Islam.
ReplyDeleteTerima kasih mbak Vita atas contoh yang satu ini. Memang mereka bisa lebih memahami kalau diberikan contoh2 yang bisa mereka correlate dalam imajinasi mereka. Contohnya anak saya yang suka Star Wars pernah bertanya, "Are Prophets like Jedis?" Saya langsung aja bilang Jedi is make-believe person, while a Prophet is real. :-)
ReplyDeleteMemberikan contoh2 yang sesuai dengan pengetahuan dan imajinasi mereka rasanya bisa membantu, mbak Pungki. Seperti yang dicontohkan oleh mbak Vita. Kalau dibilang Tuhan tidak ada karena tidak bisa dilihat, kita mungkin bisa menunjukkan bahwa pengelihatan kita manusia ini terbatas. Misalnya dengan menunjukkan rel kereta api yang sejajar tapi terlihat oleh kita menyatu di satu titik, atau tipuan2 mata lainnya. Umumnya anak2 yang masih kecil (belum teenagers), mereka belum berpikir sampai jauh atau terlalu kritis.
ReplyDeleteSaya ingat ada buku Jeffrey Lang "Losing my religion" yang menceritakan beberapa pengalaman anak2 muda Islam (teenagers and up) di Amerika dalam proses pergulatan pemikiran mereka yang dibesarkan di negara yang mayoritas non-Muslim ini. Buku ini enak untuk dibaca dan bisa membantu orang2 tua yang memiliki teenagers yang berpikiran kritis terhadap iman/agama mereka.
Untuk lebih mudah dipahami, kita bisa menganggap kerangka berpikir ini hanyalah "tool" (framework) yang bisa digunakan dalam proses berpikir kita, yang tidak hanya berhubungan dengan masalah2 agama, tapi juga masalah2 dalam hidup lainnya.
ReplyDeleteMisalnya, dalam suatu pengadilan, seorang witness bisa dibilang unreliable kalau salah satu statementnya tidak konsisten dengan statementnya yang lain (inconsistency). Atau seorang politisi yang menyerang politisi lain dalam tax policy dengan tuduhan "si A itu sudah kaya raya jadi nggak peduli masalah tax buat rakyat kecil" (ad-hominem). Atau suatu media massa bisa dibilang biased atau tidak adil kalau berita orang yang berpoligami diexpose habis2an dan diberitakan secara negative dengan alasan moral, tapi orang yang menikah sesama jenis sama sekali tidak diberikan penilaian (inconsistency).
Dalam buku2nya Harun Yahya, disebutkan bukti2 manipulasi, pemalsuan, dan pemaksaan oleh orang2 yang mempercayai teori evolusi sebagai suatu fakta. Seorang atheist yang tidak percaya kepada adanya Pencipta alam semesta, atau seorang theist yang tidak menerima adanya kisah penciptaan awal manusia (Adam dan Hawa), akan mencoba membawa teori evolusi sebagai suatu bukti kebenaran pandangan filsafat mereka (bahwa tidak ada yang namanya bapak dan ibu asal usul manusia seperti yang diceritakan dalam kitab2 suci agama - implikasinya: agama cuma cerita bualan saja). Mereka akan mencoba "memaksakan" teori ini kepada orang2 yang tidak berpaham sama sebagai suatu kebenaran fakta. Dari publikasi di media massa, movies, textbooks, kurikulum2 di sekolah, dst, teori evolusi "manusia berasal dari manusia menyerupai kera" diajarkan bagaikan suatu fakta. Tetapi berita2 fakta penipuan, pengelabuan yang dilakukan para scientist yang memaksakan teori evolusi tidak pernah, atau jarang diexpos, ke public. I believe this is the main criticism made by Harun Yahya.
ReplyDeleteMeskipun demikian tidak sedikit Muslims yang mengakui adanya kebenaran teori evolusi ini di alam ini. Menurut saya, Muslims yang menerima teori evolusi sedikit banyak akan mengalami kesulitan menghubungkan cerita Adam dan Hawa yang disebutkan dalam Al Qur'an dan hadits2 shahih dengan teori evolusi ini, kecuali mereka mau:
1. membuat pengecualian akan hal tsb (bahwa Adam dan Hawa diciptakan Allah tersendiri terlepas dari proses evolusi yang di-set Allah untuk selain manusia),
2. menginterpretasi lagi ayat2 dan hadits tsb secara tidak literally tapi dihubung2kan dengan proses evolusi (bunyi matan ayat dan hadits harus ditafsirkan secara allegorical) bahwa Adam dan Hawa diciptakan secara bertahap (evolusi) sampai menjadi makhluk yang sempurna sebelum turun ke bumi.
Wallahu'alam.
Mas Ridha, makin menarik aja diskusinya :-)
ReplyDeleteBenar, bahwa kerangka berpikir itu bisa digunakan untuk memahami ketauhidan. Jadi harus ada consistency dan comprehensiveness dalam memahami adanya Dzat Allah. Cuma herannya koq, kerangka berpikir itu khan banyak dipakai oleh orang-orang Barat yang nota bene banyak yang bukan Islam. Apakah mereka merasa ada consistency bahwa tuhan itu bisa tiga macam atau apakah seseorang itu bisa menjadi anak tuhan. Kenyataannya kan mereka tidak konsisten, sementara metode berpikir itu mereka pakai. Jadi pasti ada faktor ”X” yang lain, selain kerangka berpikir, yang disebut hidayah (petunjuk yang membuat seseorang menjadi atau lebih beriman pada Allah). Hidayah ini tidak dikaruniakan kepada para orientalis yang pakar mengenai agama Islam tapi tidak masuk Islam.
Mas Ridha, seharusnya ulama hanya menafsirkan ayat2 Al Qur`an yang muhkamaat saja (tegas dan terang maksudnya, dapat dipahami dengan mudah) dan tidak berdebat tentang ayat2 mutasyaabihaat (ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sesudah diselidiki secara mendalam; atau ayat-ayat yang pengertiannya hanya Allah yang mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaib-ghaib misalnya ayat-ayat yang mengenai hari kiamat, surga, neraka dan lain-lain).
ReplyDeleteIni sesuai dengan QS. Ali Imran : 7. Jadi kalau sampai mereka memperdebatkan hal-hal ghaib rasanya koq sudah “misguided” atau “out of context” ya. Bahkan ulama sekaliber Nurcholish Madjidpun bisa mengalaminya (lihat http://www.swaramuslim.net/more.php?id=209_0_1_0_M)
Ya benar Mas Ridha, banyak diantara muslim yang mencari-cari ayat Al Qur`an dan hadits untuk menemukan “PEMBENARAN” dari pikiran mereka, bukan untuk menemukan “KEBENARAN”. Misalnya orang yang ingin mempunyai isteri lagi, lalu dia mencari pembenaran dengan dalil QS An Nisaa` : 4. Allah berfirman “...Kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi dua, tiga atau empat...”
ReplyDeleteTetapi kebenarannya adalah bahwa Allah itu menghendaki atau lebih mengutamakan monogami, karena firman Allah selanjutnya dalam ayat itu adalah “kemudian jika kamu tidak akan dapat berlaku adil, maka kawinilah seorang saja”. Kita tahu seseorang itu sulit berlaku adil terhadap lebih dari satu isteri yang sama-sama dicintainya.
Wallahu`alam bishshowab.
Benar mbak. Karena hanya general framework untuk proses berpikir, ia bisa dipakai oleh siapa saja. Karena itu sayang kalau ketika berdiskusi dengan orang2 non-Muslim orang2 Islam tidak memahami framework ini.
ReplyDeleteBagi orang2 yang percaya trinitas, konsep ini dianggap termasuk ke dalam hal ghaib yang masih misteri, jadi tidak bisa dipikirkan oleh akal. Menurut saya mereka rancu terhadap istilah misteri dan non-sense/irrational. Meskipun Zat Tuhan merupakan misteri yang tidak bisa dijangkau akal kita, konsep "manusia (created) = Tuhan (uncreated)" adalah konsep irrational, karena adanya kontradiksi dalam konsep tsb. Misteri adalah sesuatu yang tidak bisa diverifikasi karena keterbatasan kemampuan observasi kita sebagai manusia, lain halnya dengan irrational yang mengandung logical contradiction.
Apa yang mbak Vita katakan mengingatkan saya pada orang2 yang belum memeluk Islam tapi tak jarang "membela" Islam dan Nabi SAW dalam buku2 atau ceramah2 mereka (misalnya Karen Armstrong, John Esposito, dll), meskipun saya tidak tahu apakah mereka mengakui kerasulan Nabi SAW atau tidak. Dr.Jamal Badawi menyebut fenomena semacam ini sebagai "the envitable inconsistency":
"A more tolerant yet perplexing attitude then came into being. Some writers began even to give credit to Islam as a powerful and viable ideology and to Muhammad (PBUH) as a man with positive and moral qualities. His sincerety, sacrifices, and the instrumental role he played in bringing about spiritual, moral and material upliftment to humanity were all admitted. One thing, however, was not admitted readily: was Muhammad (PBUH) was a true Prophet who received divine revelation from God, and was the Qur'an really a divine book or was it of Muhammad's own making?"(from: 'Dr.Jamal Badawi's Muhammad's Prophethood, An Analytical View').
Tapi seperti yang kita tahu, hidayah itu urusan Allah SWT. Mudah2an Dia memberikan hidayah kepada mereka, juga kepada kita semua. Amin...
Setuju mbak Vita. Contohnya perdebatan apakah Nabi SAW menjalankan isra' mi'raj dengan jasad dan ruh, atau ruh saja? Apakah "yadullah" bisa diterjemahkan "tangan Allah" atau "kekuasaan Allah"?, "Apakah di surga nanti kita bisa melihat wujud Allah SWT atau hanya cahaya-Nya saja?", dlsb... Sudah sebaiknya para ulama tidak berdebat terhadap hal2 ghaib dan mutasyabihat macam ini yang kita tidak memiliki pengetahuan tentang itu (karena tidak dijelaskan secara detail oleh Allah SWT maupun Nabi SAW). Apapun argument mereka, tetap saja data2 untuk mendukungnya tidak ada. Lebih baik energi dan pengetahuan mereka diarahkan kepada membahas solusi2 terhadap problematika yang dihadapi umat Islam agar bisa bermanfaat untuk kebahagiaan bersama, dunia akherat.
ReplyDeleteWallahu'alam.
Seperti tulisannya Ulil Abshar waktu beberapa lalu?
ReplyDeleteAda linknya nggak mas Anto ke tulisannya Ulil tsb? Dulu saya pernah diskusi dengan beliau di milis islib, tapi karena tidak ada response lebih lanjut, diskusi tsb terputus...
ReplyDeleteAssalaamu’alaykum wr.wb.,
ReplyDeleteMas Ridha,
maaf baru ada kesempatan meneruskan diskusi kembali… Mungkin bisa jadi catatan buat kita semua.
Seseorang menanyakan atau berargumentasi sesuatu pasti ada motifnya. Ada asap pasti ada apinya. Jika seorang anak kecil menanyakan apa buktinya Muhammad SAW itu benar-benar seorang Rasul, maka kemungkinan besar karena dia ingin menambah kecerdasannya. Namun jika yang bertanya seseorang dewasa, bisa lain motifnya. Mungkin dia ingin lebih menambah keyakinannya jika ia beragama Islam. Mungkin juga dia ingin mencemooh Rasulullah SAW dengan harapan agar agama yang dianutnya (jika dia non-muslim) bisa dibenarkan atau ada dalil/argumentasi yang membenarkannya. Jika yang bertanya seorang remaja, mungkin dia sedang mencari figur yang tepat untuk identitas dirinya.
Pointnya, saya khawatir jika metoda yang dikatakan mas Ridha itu dipakai begitu saja tanpa melihat motif orang yang bertanya maka akan hanya akan melahirkan perdebatan tanpa ujung dan tidak menambah keimanan dan pahala kita.
Bagaimana kita mengetahui motif orang yang bertanya?
Pada tahap pertama, kita perlu positive thinking. Kita anggap orang yang bertanya ingin tahu dan ingin menerapkannya untuk memperbaiki diri (self improvement) atau menambah keimanannya. Dalam hal ini yang kita perlu jelaskan dengan kaidah2 seperti yang diungkapkan mas Ridha (consistency, comprehensiveness, dll) disertai doa agar bermanfaat buat yang bertanya.
Pada tahap kedua, jika yang bertanya kemudian mengajukan pertanyaan2 yang nadanya membantah (ngeyel, stubborn), maka kita hanya berkewajiban untuk menyampaikan apa saja yang menjadi KEBENARAN sesuai dengan Al Qur’an dan Hadits. Setelah itu lepas tanggung jawab kita, apakah dia mau menerima kebenaran itu atau tidak, karena pertanggung jawabannya ada di pundak masing-masing.
Sebagai ilustrasi, dalam Al Qur’an ada kisah Ashabul Kahfi, yaitu sejumlah pemuda yang disertai anjing tidur selama beberapa ratus tahun. Buat kita yang penting adalah apa makna dan pelajaran dari kisah itu, mengapa Allah berkepentingan untuk menyampaikannya dalam Al Qur’an. Tetapi beberapa orang tertentu menambah-nambahi dengan pertanyaan atau argumentasi “kritis”, misalnya berapa jumlah pemudanya, apa resepnya agar bisa tidur begitu lama, dsb. Jika pertanyaan2 semacam itu ditanggapi, akan ada perdebatan tanpa ujung, iman kita kepada Allah tidak akan bertambah dan tidak ada pahalanya.
Namun jika sharingnya seperti yang kita lakukan sekarang ini atau misalnya mengenai pendapat Dr. Jamal Badawi tersebut, saya rasa ok-ok saja dan malah bisa menambah tebal keimanan kita. Betul nggak mas?
Demikian tambahan saya mas... Wallaahu a’lam bish-showab.
Wa'alaikum salam wr.wb.,
ReplyDeleteTerima kasih mbak Vita atas tambahannya.
Benar mbak, dalam berdiskusi tidak ada faedahnya kalau kita buang2 waktu berdebat kusir (debat yang tidak jelas arahnya). Biasanya suatu diskusi terasa sudah mulai memasuki debat kusir kalau salah satu pihak tidak mau mengakui kebenaran argumentasi pihak lain atau tidak mau mengakui kesalahan (fallacy) argumentasi sendiri. Kalau sudah melihat tanda2 seperti ini lebih baik diskusi diakhiri karena hanya akan buang2 waktu saja.
Jadi ingin share pengalaman sedikit... :-)
Saya sering didatangi para misionaris yang hendak menda'wahkan agamanya kepada saya. Ketika tahu saya Muslim, mereka biasanya mengajukan banyak tuduhan mengenai Islam dan Nabi SAW. Saya merasa berkewajiban mengkoreksi pendapat mereka yang salah dengan memakai dasar2 argumentasi yang jelas. Kalau pada akhirnya mereka tidak mau menerima, biasanya saya sudahi diskusi tsb dengan alasan tidak mau buang2 waktu berdebat kusir. Biasanya ada beberapa yang menerima, ada pula yang masih mengajak saya bergabung dengan mereka. Meskipun begitu, saya merasa lega karena at least sudah berusaha mengkoreksi pemahaman mereka yang salah. Urusan hidayah itu urusan mereka dengan Allah SWT.
Jazakillah khairan...